Example 728x250
BudayaLifestyle

“Parang Cengkeh” Batik Tulis Trenggalek, Warisan Lokal yang Jadi Sorotan di Hari Batik Nasional

×

“Parang Cengkeh” Batik Tulis Trenggalek, Warisan Lokal yang Jadi Sorotan di Hari Batik Nasional

Sebarkan artikel ini
Parang Cengkeh, Batik Tulis Khas Trenggalek

Gradasinews.id – Hari Batik Nasional yang diperingati setiap tanggal 2 Oktober ini kembali mengangkat batik sebagai identitas budaya bangsa. Di tengah semaraknya perayaan, batik tulis khas Trenggalek menegaskan eksistensinya sebagai warisan lokal yang sarat makna dan sudah melangkah hingga ke panggung dunia.

Batik Trenggalek dikenal dengan motif cengkeh yang menjadi simbol daerah penghasil rempah. Salah satu corak paling populer adalah parang cengkeh, hasil adaptasi motif klasik Jawa yang dipadukan dengan identitas lokal. Motif ini mencerminkan filosofi masyarakat Trenggalek yang menjunjung keselarasan hidup dengan alam.

Menurut catatan sejarah, batik tulis Trenggalek mulai berkembang sejak tahun 1970-an di kawasan Sumbergedong dan Surondakan. Namun, geliatnya sempat redup pada dekade 1980-an karena tren busana modern. Tradisi itu kembali bangkit pada 2000-an, terutama sejak 2009 ketika Desa Ngentrong, Kecamatan Karangan, ditetapkan sebagai sentra batik tulis.

Sejumlah motif klasik masih digunakan para pengrajin hingga kini, seperti Kawung, Sidomukti, Segar Jagat, Truntum, Parang Kusumo, hingga Parang Rusak. Namun, motif parang cengkeh tetap menjadi ikon utama yang membedakan Trenggalek dengan daerah lain di Jawa Timur.

Batik Trenggalek bahkan pernah tampil dalam Paris Fashion Week, menandai langkah penting dalam memperkenalkan karya budaya lokal ke pentas internasional. Kehadiran batik tulis Trenggalek di ajang global itu menjadi bukti bahwa kerajinan tradisional mampu bersaing dengan tren mode modern.

Peringatan Hari Batik Nasional yang jatuh setiap 2 Oktober tidak lepas dari pengakuan UNESCO pada 2009 yang menetapkan batik sebagai Warisan Kemanusiaan untuk Budaya Lisan dan Nonbendawi. Momentum ini kemudian diperkuat melalui Keppres No. 33 Tahun 2009 yang ditandatangani Presiden Susilo Bambang Yudhoyono.

Hari Batik Nasional menjadi ajakan bagi masyarakat, khususnya generasi muda, untuk tidak hanya memakai batik di momen peringatan, tetapi juga memahami nilai dan filosofi di balik setiap motif. Dukungan terhadap perajin lokal, seperti pengrajin batik Trenggalek, dinilai penting untuk menjaga keberlanjutan warisan budaya sekaligus membuka peluang ekonomi kreatif di daerah.